Teknik Khitabah Milenial di Babul Ulum: Cetak Dai Muda yang Viral di Sosmed

Dunia dakwah saat ini sedang mengalami transformasi besar seiring dengan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Menyadari hal tersebut, Pondok Pesantren Babul Ulum mulai menerapkan teknik khitabah milenial untuk membekali para santrinya dengan kemampuan orasi yang relevan. Fokus utama dari program ini adalah menciptakan dai muda yang tidak hanya mahir secara substansi agama, tetapi juga mampu mengemas pesan secara menarik agar viral di sosmed. Dalam proses pembentukan karakter ini, penerapan program pekan budi pekerti menjadi fondasi penting agar popularitas yang didapatkan tetap dibarengi dengan adab yang luhur. Penguasaan retorika yang tepat di lingkungan Babul Ulum diharapkan mampu memberikan warna baru dalam dunia dakwah digital.

Khitabah atau seni berpidato merupakan disiplin ilmu yang sudah lama diajarkan di pesantren. Namun, di era milenial dan Gen Z, metode ceramah yang monoton dan terlalu kaku seringkali sulit menjangkau audiens muda. Oleh karena itu, teknik baru yang lebih interaktif, santai, namun tetap berisi mulai dikembangkan. Para santri dilatih untuk memadukan dalil-dalil agama dengan isu-isu kontemporer yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat.

Pemanfaatan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi bagian dari kurikulum praktis di Babul Ulum. Santri tidak hanya belajar bicara di depan mimbar, tetapi juga belajar di depan kamera. Mereka diajarkan cara mengatur intonasi, ekspresi wajah, hingga pemilihan diksi yang “catchy” agar audiens tidak segera menggeser (swipe) konten dakwah mereka. Hal ini penting karena persaingan konten di jagat maya sangat tinggi, dan dakwah harus mampu bersaing dengan konten hiburan lainnya.

Tantangan terbesar bagi dai muda saat ini adalah menjaga konsistensi antara citra di media sosial dengan perilaku di dunia nyata. Inilah alasan mengapa aspek budi pekerti sangat ditekankan. Kepintaran dalam berbicara jika tidak disertai dengan akhlak yang baik hanya akan menghasilkan konten yang kosong. Pesantren memastikan bahwa meskipun para santri mengejar jangkauan (reach) yang luas, nilai-nilai kejujuran dan kerendahan hati tetap menjadi identitas utama mereka.

Selain aspek teknis, para santri juga dibekali dengan kemampuan riset data. Seorang dai milenial harus mampu menjawab tantangan zaman dengan argumen yang kuat dan berbasis data yang valid. Hal ini bertujuan agar dakwah yang disampaikan tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga mampu memberikan pencerahan secara intelektual bagi para pengikutnya di media sosial.