Jalan Spiritual: Mengkaji Kitab Ihya Ulumuddin dan Menemukan Makna Kehidupan
Di antara khazanah kitab-kitab klasik yang dikaji di pesantren, Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali memiliki kedudukan istimewa. Kitab monumental ini bukan sekadar manual ibadah; ia adalah panduan komprehensif untuk tazkiyatun nufus (penyucian jiwa), yang menjadi pintu gerbang bagi setiap santri untuk Menemukan Makna Kehidupan yang sejati. Melalui kajian mendalam terhadap Ihya Ulumuddin, santri diajak untuk bergerak melampaui ritual formal, menyelami dimensi spiritual di balik setiap amal, dan akhirnya Menemukan Makna Kehidupan yang berpusat pada keikhlasan dan kedekatan dengan Tuhan. Kitab ini secara sistematis membimbing pembaca untuk Menemukan Makna Kehidupan dengan menyelaraskan dimensi syariat, tarekat, dan hakikat.
Kitab Ihya Ulumuddin dibagi menjadi empat bagian yang saling melengkapi: Rubu’ al-Ibadat (perkara ibadah), Rubu’ al-Adat (perkara adat/kebiasaan), Rubu’ al-Muhlikat (perkara yang merusak), dan Rubu’ al-Munjiyat (perkara yang menyelamatkan). Bagian yang paling banyak dikaji di pesantren terkait pembentukan akhlak adalah Muhlikat dan Munjiyat. Di sinilah Imam Al-Ghazali membahas penyakit-penyakit hati seperti riya (pamer), ujub (bangga diri), dan hasad (dengki), sekaligus menawarkan terapi spiritual untuk membersihkannya.
Kajian Ihya Ulumuddin di pesantren sering dilakukan secara Bandongan (kolektif) oleh Kiai, atau melalui sistem Sorogan (individual) bagi santri senior. Proses ini berlangsung lama, sering kali memakan waktu dua hingga tiga tahun untuk menyelesaikan seluruh isi kitab. Durasi panjang ini diperlukan karena kedalaman materi yang menuntut refleksi dan praktik spiritual yang berkelanjutan. Ustadzah Fathimah Zahra Fiktif, pengajar senior di Ma’had Aly Ar-Rabbani, dalam sesi bahtsul masa’il pada Rabu, 9 April 2025, menyoroti bahwa pemahaman bab Khauf (takut) dan Raja’ (harap) dalam kitab ini sangat penting untuk menyeimbangkan praktik ibadah santri.
Disiplin yang dituntut oleh Ihya Ulumuddin, seperti mengurangi ketergantungan pada dunia (zuhud) dan menekankan muhasabah (introspeksi) harian, secara bertahap membentuk pribadi santri menjadi individu yang tenang, ikhlas, dan berakhlak mulia. Dengan menjabarkan esensi dan tujuan sejati setiap amal, Ihya Ulumuddin berhasil menuntun santri untuk menemukan tujuan eksistensial mereka di dunia, yaitu peribadatan dan pengabdian yang tulus.
